Kebijakan Pemerintah Diduga Membuat PKL Menjerit, PKL : Kami Bisa Apa ??

Terkini.Id | Aceh Tamiang – Para pedagang kaki lima (PKL) di Jln Nyak Umar depan Masjid Raya Kota Kuala Simpang dan Jln Letjend Suprapto mengeluh. Pasalnya mereka harus kembali lagi berjualan di ‘Pasar Kuliner Malam’ Kota Kuala Simpang yang banyak mengeluarkan modal. 

Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang kembali meminta Para Pedagang harus berjualan di lokasi yang sudah disiapkan.

“Jelas memiliki perbedaan besar ketika kami harus kembali berjualan di Pasar Kuliner Malam’ Kota Kuala Simpang dengan perbandingan lokasi tempat awal mereka berjualan,” ujar Irvan salah satu Pedagang.

Baca Juga: Peresmian dan Peletakan Batu Pertama Rumah Qur’an dan Peradaban Aceh

Setiap bulannya, pedagang harus mengeluarkan uang bervariasi antara Rp 250 ribu hingga Rp 450 ribu. Saat berjualan di Pasar Kuliner Malam.

“Ada yang dikutip harian dan ada yang bulanan,” kata Irvan, Senin, 21 Juni 2021.

Baca Juga: YNCI Berikan Bantuan 10 Al-Qur’an Untuk Rumah Qur’an dan Peradaban

Menurutnya, saat berjualan di pasar kuliner malam ada kutipan uang harian ini meliputi uang kebersihan Rp 1.000, retribusi badan jalan Rp 2.000, tenda Rp 2.000, listrik Rp 5.000.

Sedangkan iuran bulan berupa uang jaga malam antara Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu.

“Uang jaga malam ini tergantung barang-barang kita, kalau cuma steling hanya Rp 100 ribu, tapi kalau lengkap ada kursi sama meja diminta Rp 250 ribu,” cetus Irvan. 

Baca Juga: Pimpinan Rumah Qur’an : Terimakasih Atas Kehadiran Ibu Ketua TP-PKK...

Dia menegaskan besaran kutipan itu sangat membebani pedagang karena tidak sebanding dengan omzet yang didapat.

Kondisi ini kata dia diperparah dengan sistem pengelolaan parkir yang membuat pengunjung enggan datang.

“Kalau bisa kendaraan bisa masuk ke dalam untuk memudahkan pengunjung. Dan tarifnya juga harus dikontrol, jangan sesuka yang jaga parkir,” kata Irvan.

Sehingga gegara hal ini dua bulan terakhir, satu per satu pedagang di Pasar Kuliner angkat kaki memilih kembali ke lapak mereka semula.

“Dari seratusan lebih pedagang, hari ini tinggal enam pedagang. Bukan kami membangkang, tapi kami juga punya keluarga untuk dinafkahi,” bebernya.

Namun yang membuat pedagang resah, Pemkab Aceh Tamiang telah mengeluarkan surat kepada masing-masing pedagang untuk kembali ke Pasar Kuliner selambatnya pada 10 Juni.

Bahkan Kadis Perindagkop Aceh Tamiang disebut pedagang akan menertibkan pedagang yang menolak kembali ke Pasar Kuliner.

“Kami bersedia pindah kalau Pemkab juga mau memenuhi poin yang kami ajukan, intinya perbaiki semua sistem retribusi,” tegas Irvan salah satu Pedagang mewakili pedagang lainnya (M.Irwan)

Bagikan